uulgrs

Potensi Dolomit Pulau Madura

In Uncategorized on March 30, 2010 at 08:55


Gambar 1


Gambar 2


Gambar 3


Gambar 4


Gambar 5


Gambar 6


Gambar 7


Gambar 8


Gambar 9


Gambar 10


Gambar 11


Gambar 12


Gambar 13


Gambar 14


Gambar 15


Gambar 16


Gambar 17


Gambar 18


Gambar 19


Gambar 20


Gambar 21


Gambar 22


Gambar 23


Gambar 24


Gambar 25


Gambar 26

” Kau Seputih Melati “

In Uncategorized on February 26, 2010 at 08:55

Lirik Lagu ” Kau Seputih Melati “
Artis ” Dian Pramana Putra “

Kau Bunga Di Tamanku
Di Lubuk Hati Ini
Mekar dan Kian Mwangi
Melati Pujaan Hati

Bersemilah Sepanjang Hari
Mewarnai Hidupku
Agar Dapat Kusadari
Artimu Bagiku

Kau Melati Putih dan Bersih
Kau Tumbuh Diantara Belukar Berduri
Seakan Tak Peduli Lagi
Meski Dalam Hidupmu Kau Hanya Memberi
Kau Tebar Harum Sebagai Tanda
Cinta Yang Tlah Kau Hayati
Di Sepanjang Waktu

Kawasan Tambang Galian C Singgosari – Malang

In Uncategorized on February 23, 2010 at 08:55

    KAWASAN PERTAMBANGAN

Kawasan pertambangan pada tuisan ini berada di wilayah Desa Toyomerto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang secara umum adalah merupakan lahan bukaan oleh aktifitas/kegiatan penambangan. Pengusahaan penambangan dilakukan pada dataran dan lereng Gunung Arjuno untuk mengambil material pasir dan batu (sirtu).
Bahan galian sirtu ini terbentuk sebagai hasil / produk aktifitas volkanisme kompleks gunungapi G. Arjuno-Welirang. Material sirtu yang merupakan endapan lahar dan piroklastik ini telah dimanfaatkan oeh penduduk disekitar untuk ditambang sebagai bahan baku kegiatan pembangunan. Material ini berupa asosiasi hasil pembatuan fragmen batuan beku andesit-riolit (berukuran kerakal hingga bongkah) dalam massa dasar pasiran. Sehingga bahan galian sirtu ini bersifat mudah lepas dan berpotensi untuk longsor. Dalam kegiatan penambangannya perlu diperhatikan tinggi jenjang galian dan sudut lereng galian untuk menghindari terjadinya runtuhan dan longsoran yang dapat mengakibatkan terjadinya korban jiwa.
Penambangan sirtu didaerah penelitian diusahakan secara berkelompok, dimana masing-masing kelompok diketuai oleh juragan yang juga bertindak sebagai pemilik lahan. Pengusahaan tambang dilakukan dengan menggunakan peralatan sederhana (cangkul, linggis, sekop, keranjang) dan minim perlatan keselamatan tambang.
Lokasi tambang dan lahan bekas tambang menghasikan bentuk galian yang dalam (hingga > 50m), yang beberapa berubah menjadi kubangan. Sistem teras yang diterapkan dalam pengambilan bahan galian sirtu perlu diperhatikan sudut lerengnya.

    BEBERAPA ASPEK KEGIATAN PERTAMBANGAN

Sejarah Penambangan di Kecamatan Singosari
Bidang usaha pertambangan dan bahan galian di desa Toyomarto merupakan bidang usaha yang telah lama ada yaitu sekitar tahun 60-an, awalnya bahan yang di tambang adalah hanya batu gunung dengan pola penambangan “sumuran”. Bahan batu gunung ini dijadikan sebagai bahan produksi cobek untuk home industry yang banyak diusahakan oleh masyarakat. Untuk penambangan pasir batu seperti yang ada saat ini baru berkembang sejak tahun 80-an untuk memenuhi kebutuhan urugan proyek-proyek pembangunan di Kota Malang dan sekitarnya.

Luas, metode dan pengusahaan tambang
Usaha penambangan galian pasir batu sesuai data monografi desa meliputi area dengan luas lahan 20 Ha dan mempunyai kapasitas produksi tiap tahun ± 4000 Ton/Ha, dan mampu menghasilkan sekitar 1.5 M/tahun. Saat ini usaha penambangan diusahakan oleh 14 orang sebagai pemilik usaha/juragan tambang dengan melibatkan sekitar 350 orang buruh tambang. Secara umum pola pertambangan dilakukan secara tradisional/manual dengan menggunakan alat ganco, sekop dan linggis. Alat berat seperti bego baru mulai dikenal oleh masyarakat sekitar tahun 2000-an. Penggunaan alat berat karena adanya permintaan bahan galian pasir batu dalam jumlah besar separti untuk proyek-proyek pembangunan. Penggunaan alat berat ini seringkali memicu terjadinya konflik di tingkat buruh pertambangan dan pemilik lahan pertambangan. Kasus konflik perihal pemakaian alat berat oleh salah satu juragan terjadi tahun 2008.
Sementara pola kepemilikan usaha pertambangan merupakan lahan milik sendiri dan diusahakan sendiri oleh para pemiliknya. Pemilik lahan pertambangan cenderung masih satu garis keturunan karena adanya warisan, sehingga usaha pertambangan yang dilakukan oleh masyarakat sudah turun temurun, bersifat tradisional, sehingga seringkali mengalami kendala untuk identifikasi keabsahan dari ijin KP pertambangan pasir batu khususnya pemilik lahan yang berasal dari desa toyomarto. Namun, ada juga orang di luar desa yang membeli lahan untuk dijadikan kawasan pertambangan.
Untuk dapat membuka lahan pertambangan ada alur birokrasi yang harus di penuhi oleh juragan tambang, seperti yang terlihat pada bagan di bawah ini :


Alur birokrasi pembukaan lahan pertambangan

Pola Kerja Penambang
Aktivitas kerja penambang galian sirtu penduduk desa Toyomarto dari hasil survei di lapangan diketahui bahwa para penambang umumnya bekerja pada seorang jurangan tambang sebagai pemilik lahan dengan cara berkelompok antara 3 – 5 orang, dalam satu lahan (babakan) biasanya terdiri dari 5 – 15 kelompok penambang. Penambang mulai kerja jam 06:00 pagi menggali lahan untuk menyiapkan bahan galian sambil menunggu armada truk pembeli datang atau bila bahan galian sudah terkumpul namun belum ada truk pembeli yang datang, penambang akan keluar lokasi untuk menghentikan truk yang lewat dan menawarkan bahan galian yang telah dikumpulkan. Proses transaksi jual beli bahan galian adalah antara supir truk dengan para pekerja penambang secara langsung langsung tanpa perantara, sedang juragan tambang hanya memberi arahan dan menerima bagiannya (komisi) sesuai dengan kesepakatan dengan buruh tambang.

Pola Pengupahan dan Kelompok Kepentingan
Untuk upah kepada penambang sebagai imbalan jasa adalah dibagi rata oleh sesama penambang sendiri (3 – 5 orang) setelah di potong uang untuk jeragan tambang (komisi). Selengkapnya rincian dapat dilihat pada Tabel berikut ini :

Besaran upah

Sumber : Hasil Riset (diolah)

Usaha penambangan sirtu di desa Toyamarto melibatkan beberapa pihak terkait dengan berbagai kepentingan sesuai dengan kedudukan dan perannya di masyarakat. Selengkapnya rincian dapat dilihat pada Tabel berikut ini :
Identifikasi kelompok kepentingan pertambangan

Sumber : Hasil Riset (diolah)

Persepsi terhadap kawasan pertambangan

Dari hasil survei lapangan untuk pertanyaan yang terkait dengan persepsi masyarakat terhadap kawasan pertambangan teridentifikasi 94,0% responden menyatakan setuju atau mendukung keberadaan pertambangan, peryataan tidak mendukung tidak ada atau 0,0% sedang 6,0% menjawab tidak tahu. Tingginya dukungan terhadap keberadaan penambangan berkorelasi dengan jawaban responden dimana sebanyak 98,0% menyatakan penambangan memberi manfaat kepada masyarakat dan tidak ada jawaban yang menyatakan tidak, sedang 2,0% menjawab tidak tahu. Hal itu juga ditegaskan lagi dengan rendahnya prosentase jawaban responden yang menyatakan bahwa pertambangan berdampak terhadap lingkungan yaitu sekitar 12,0% saja sedang jawaban pertambangan tidak berdampak ada 86,0% dan sisanya 2,0% menjawab tidak tahu. Selengkapnya rincian dapat dilihat pada Tabel berikut ini :

Persepsi terhadap kawasan pertambangan

Sumber : Hasil Riset (diolah)
Rendahnya kesadaran akan dampak pertambangan adalah sesuai dengan jawaban responden terhadap pertanyaan berapa lama lagi bahan tambang akan habis ditambang. Ada 8% responden menjawab bahan tambang akan habis 5 s/d 10 tahun lagi, 30% responden menjawab lebih dari 10 tahun dan yang paling banyak adalah responden yang menjawab tidak tahu yaitu sebanyak 62%, Selengkapnya rincian dapat dilihat pada Tabel berikut ini :

Prediksi Bahan Tambang akan Habis
lima
Sumber : Hasil Riset (diolah)

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa persepsi masyarakat terhadap kawasan pertambangan adalah positif dan dibutuhkan oleh mereka. Namun hal itu tidak didukung dengan kesadaran akan dampak yang ada terkait dengan pelestarian lingkungan kawasan tersebut. Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara dengan beberapa tokoh masyarakat yang menyatakan bahwa kawasan pertambangan merupakan sumber utama mata pencaharian masyarakat yang dapat secara langsung dinikmati sehingga mereka dapat melupakan beratnya beban kehidupan yang harus mereka jalani.

Persepsi terhadap kegiatan pertambangan

Persepsi masyarakat terkait kegiatan pertambangan dari survei lapangan teridentifikasi 98,0% menjawab pernah terjadi kecelakaan kerja dari kegiatan pertambangan, menjawab tidak 0,0% dan 2,0% menjawab tidak tahu. Untuk pertayaan keamanan bekerja di pertambangan teridentifikasi 72,0% menjawab aman, menjawab tidak aman 12,0% sedang 16,0% menjawab tidak tahu. Sedang untuk pertayaan peluang pindah profesi sebagai penambang bila ada peluang usaha lain, sebanyak 36,0% responden menjawab ya, menjawab tidak 22,0% dan sebanyak 42,0% responden lainnya menjawab tidak tahu. Selengkapnya rincian dapat dilihat pada Tabel berikut ini :

Persepsi terhadap kegiatan pertambangan

Sumber : Hasil Riset (diolah)

Tingkat resiko kecelakaan kerja pertambangan yang pernah terjadi teridentifikasi sebanyak 64% responden menjawab berkibat paling fatal yaitu meninggal dunia, sebanyak 22% menjawab luka parah (cacat fisik) dan hanya 14% saja yang menjawab luka biasa (tidak cacat).
Tingkat Resiko Kecelakaan Pertambangan

Sumber : Hasil Riset (diolah)
Dari pengalaman terjadinya kecelakaan yang pernah ada, berdasarkan jawaban responden teridentifikasi sebanyak 64% menyatakan faktor alam sebagai penyebab kecelakaan yaitu musim hujan dan longsor, 28% responden menyatakan penyebabnya adalah faktor dari penambang sendiri yang kurtang hati-hati dan takdir dan yang lain sejumnlah 8% menyatakan faktor peralatan pertambangan yang sederhana sebagai penyebab kecelakaan.
Jawaban Responden terhadap Penyebab Kecelakaan

Sumber : Hasil Riset (diolah)

Dari uraian diatas dapat dijelaskan bahwa persepsi terhadap kegiatan pertambangan mengambarkan sikap yang saling bertolak belakang disatu sisi menyatakan kegiatan pertambangan rawan terhadap kecelakaan namun juga menyatakan kalau kegiatan tersebut adalah aman. Mayoritas responden juga dengan sadar memahami resiko terburuk yang di hadapi yaitu kematian dengan sadar pula mengidentifikasi penyebab dari kecelakaan yang pernah terjadi. Hal ini adalah cerminan kepasrahan masyarakat terhadap kenyataan realita yang mereka hadapi atas pilihan yang tersedia. Yang dengan jelas ternyatakan pada peryataan seorang tokoh masyarakat yang mengatakan bila orang kaya untuk bertahan hidup dengan menagandalkan kekayaannya (modal) maka untuk orang miskin, apalagi kalau bukan mengandalkan kenekatanya sebagai pegangan untuk memenuhi kebutuhan dalam hidupnya.

    UPAYA PEMANTAUAN DAN PENGELOLAAN KEGIATAN PERTAMBANGAN


Landasan Hukum
Peraturan perundangan yang digunakan sebagai dasar hukum yang mengatur dan merupakan landasan dalam pengelolaan lingkungan pertambangan ini antara lain :
a) Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan
b) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
c) Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan UU Nomor 11 Tahun 1967.
d) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1980 tentang Pengelolaan Bahan Galian golongan C.
e) Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1986 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan di Bidang Pertambangan kepada Pemerintah Daerah Tingkat I.
f) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.
g) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 12/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan.
h) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 3/MENLH/2000 tentang Kegiatan-kegiatan yang wajib AMDAL.
i) Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor : 388.K/008/MPE/1995 tentang Pedoman Teknis Penyusunan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan untuk Kegiatan Pertambangan Bahan Galian Golongan C.
j) Intruksi Mendagri Nomor 6 Tahun 1989 tentang Pengelolaan Lingkungan Lahan Usaha Pertambangan Bahan Galian Golongan C.
k) Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 1995 tentang Pertambangan Bahan Galian Golongan C di Jawa Timur.
l) Keputusan Gubernur KDH Tingkat I Jawa Timur Nomor 155 Tahun 1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan
m) Keputusan Kepala Dinas Pertambangan Daerah Propinsi Daerah tingkat I Jawa Timur Nomor 06 Tahun 1997 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan Dokumen UKL dan UPL Pertambangan Bahan Galian Golongan C di Jawa Timur.

Komponen Lingkungan dan Dampak akibat Pertambangan
Kegiatan penambangan dengan melakukan pengambilan pasir kuarsa akan berdampak terhadap lingkungan hidup baik dampak positif maupun negatif.
Karena kegiatan penambangan yang akan dilakukan merupakan kelanjutan kegiatan penambangan sebelumnya, maka akan terjadi pada setiap tahapan kegiatan penambangan yang akan dilakukan di masa mendatang yaitu :
a. Tahap Pra penambangan
Erosi
Terbuka lapangan kerja
b. Tahap pelaksanaan penambangan
perubahan bentuk lahan
polusi udara
erosi
pendapatan masyarakat
kerusakan jalan
Kemampuan lahan menurun
c. Tahap pasca penambangan
perbaikan fungsi lahan
pendapatan masyarakat
pemutusan hubungan kerja

Komponen Lingkungan
Secara umum wilayah Kecamatan Singosari dan sekitarnya mempunyai iklim tropis dengan musim penghujan dan kemarau secara bergantian. Curah hujan rata rata antara 1800 2105 mm/tahun dengan suhu udara antara 28 – 33o C. Di lokasi rencana penambangan tingkat kebisingan dan pendebuan sangat tinggi dan berarti. Penumpukan debu ini terlihat pada jalan akses (makadam) yang menuju lokasi tambang, dimana ketebalan debu penutup mencapai 5-10cm.
Topografi lokasi penambangan sirtu dan sekitarnya merupakan perbukitan bergelombang/berelief kuat dengan kemiringan lereng antara 15 – 90o. Litologi utama penyusun daerah tersebut adalah batuan endapan / sedimen piroklastik yaitu berupa endapan lahar dingin dari Gunung Arjuno-Welirang. Terdiri dari kesatuan material bongkah batuan beku dalam masa dasar pasir-kerikilan.
Penggunaan lahan pada dan disekitar lokasi penambangan adalah sebagai lahan pertanian, perkebunan teh, dan perladangan. oleh pemilik lahan diharapkan bentuk akhir penambangan berupa lahan/tanah yang datar, sehingga akan memudahkan dalam pemanfaatan dan pengolahannya. Di sekitar lokasi rencana penambangan tidak terdapat adanya bangunan penting.
Berdasarkan hasil pengamatan di lokasi wilayah pertambangan dan sekitarnya jenis serta jumlah tanaman dan hewan yang terdapat di lokasi tersebut sangat terbatas dan tidak dijumpai jenis tanaman maupun hewan yang dilindungi. Jenis tanaman yang ada adalah tanaman budidaya dan beberapa tanaman keras lain. Sedang fauna atau hewan yang ada berupa hewan liar seperti aneka burung, aneka serangga dan lain lain.
Mata pencaharian penduduk di daerah pertambangan adalah sebagai petani dan buruh tani, pengrajin batu cowek, buruh perkebunan teh dan pedagang, serta ada sebagian kecil sebagai PNS. Penghasilan penduduk yang bekerja sebagat petani khususnya di sekitar daerah rencana penambangan sangat kecil dan tidak tetap setiap hari, karena kegiatan pertanian yang berupa sawah dan tegalan tidak dapat dilakukan sepanjang tahun, sehingga banyak tenaga kerja yang tidak dapat terserap pada sektor pertanian tersebut. Dengan adanya kegiatan penambangan tersebut dapat membuka lapangan kerja baru bagi penduduk yang belum bekerja atau petani yang berminat bekerja di bidang pertambangan untuk meningkatkan/menambah penghasilan.
Sarana dan prasarana kesehatan dilokasi penambangan dan sekitamya terdapat di permukiman / desa berupa unit Puskesmas Pembantu dan bidan desa, sehingga masyarakat bisa mendapatkan pelayanan kesehatan secara cepat.
Berdasarkan hasil wawancara dengan aparat desa dan masyarakat sekitar lokasi wilayah pertambangan diketahui bahwa masyarakat setuju dengan adanya kegiatan penambangan Pasir Kuarsa di daerah tersebut. Persetujuan masyarakat tersebut karena kegiatan penambangan mempunyai dampak positif yang cukup besar khususnya dapat membuka lapangan kerja sehingga meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan, penduduk.

Prakiraan Dampak Yang Akan Terjadi
Komponen komponen lingkungan yang diperkirakan terkena darnpak dari kegiatan penambangan sirtu do Kecamatan Singosari adalah sebagai berikut :
A. Aspek Fisik Teknis
A.1. Bentuk Lahan
Kegiatan penambangan sirtu di Singosari akan berdampak terhadap bentuk lahan, kegiatan yang menjadi sumber dampak adalah kegiatan penggalian, kegiatan tersebut akan berdampak positif yang dapat dikategorikan dampak positif karena dampaknya akan tetap selamanya karena bentuk akhir penambangan akan menguntungkan, lahan tersebut menjadi rata dan dapat ditanami tanaman produktif dengan baik.

A.2. Kualitas udara
Kegiatan pembersihan lahan, penggalian dan pengangkutan akan berdampak negatif terhadap udara karena debu dan kebisingan yang ditimbulkan. Prakiraan tingkat pendebuan yang terjadi pada kegiatan pembersihan lahan tersebut sangat besar, demukian juga pada kegiatan pengangkutan sepanjang jalur jalan desa yang dilewati truk pengangkut pendebuannya akan relatif besar. Dampak dari pendebuan ini dapat diklasifikasikan menjadi dampak penting, karena akan berlangsung terus-menerus pada saat kendaraan pengangkut lewat, dan frekuensinya tinggi.
Kebisingan diperkirakan akan terjadi pada kegiatan penambangan dan pengangkutan. diperkirakan tingkat kebisingan yang kurang berarti karena lokasi penambangan jauh dari pemukiman dan kepadatan pengangkutan relatif kecil.
A.3. Erosi
Sumber dampak terjadinya erosi adalah kegiatan pembersihan lahan dan penggalian yang akan menyebabkan dampak negatif. Erosi tersebut dapat mengotori dan mendangkalkan saluran-saluran air yang ada.
A.4. Kemampuan tanah
Kemampuan tanah akan tergantung pada terganggunya struktur dan tekstur tanah, sehingga kegiatan penggalian akan berdampak negatif karena lahan selama penambangan tidak dapat dimanfaatkan, sedang kegiatan reklamasi karena akan memperbaiki struktur dan kesuburan tanah berdampak positif.

B. Aspek Biologi
B.1. Flora dan fauna
Dampak yang terjadi terhadap tanaman dan hewan yang ada dapat dikategorikan sangat kecil karena tanaman yang ada hanya merupakan tanaman budidaya dan sedikit tanaman keras dengan kondisi lahan tidak subur serta satwa yang ada tidak terdapat jenis yang dilindungi, sehingga dampaknya dikategorikan negatif tidak penting.

C. Aspek Sosekbud
C.1. Kesempatan Kerja
Kegiatan penambangan sirtu di Singosari akan berdampak positif terhadap terbuka lapangan kerja.Kegiatan kegiatan yang diperkirakan akan menyerap tenaga kerja tersebut adalah persiapan lahan, penambangan, dan pengangkutan serta reklamasi. Disamping itu juga akan terbuka peluang usaha lain yang terkait baik langsung maupun tidak langsung terhadap kegiatan penambangan. Dampak tersebut dapat dikategorikan dampak positif dan akan berlangsung selama kegiatan penambangan.
C.2. Pendapatan
Pendapatan penduduk di sekitar lokasi penambangan diperkirakan akan meningkat dengan adanya kegiatan penambangan sirtu yang akan dilakukan. Kegiatan yang berdampak positif terhadap pendapatan masyarakat adalah penambangan, pengangkutan, dan reklamasi serta peluang usaha lain yang sangat terkait dengan kegiatan penambangan tersebut. Adanya perubahan lahan pasca penambangan yang dapat berubah menjadi lahan perkebunan mangga juga berdampak positif terhadap pendapatan penduduk. Dampak tersebut termasuk dampak positif dan akan berlangsung dalam waktu yang tidak terbatas. Sedang diakhir penambangan pemutusan hubungan kerja akan berdampak negatif terhadap pendapatan masyarakat khususnya pekerja tambang dan pekerjaan informal baik secara langsung maupun tidak langsung terkait dengan kegiatan penambangan.
C.3. Persepsi Masyarakat
Tanggapan masyarakat terhadap kegiatan penambangan selama ini sangat positif. Persepsi masyarakat yang positif tersebut dapat tercapai karena prioritas kerja diberikan kepada penduduk setempat serta terbinanya hubungan baik antara penambang dengan aparat dan penduduk setempat disamping upaya pengelolaan lingkungan hidup yang baik.

C.4. Kesehatan
Dampak terhadap kesehatan masyarakat kemungkinan dapat terjadi khususnya terhadap para pekerja tambang. Dampak yang kemungkinan dapat mengganggu kesehatan antara lain terjadinya pendebuan akibat kegiatan pembersihan lahan dan penambangan. Namun sampai dengan saat ini belum ada keluhan sakit para pekerja tambang yang diakibatkan oleh kegiatan penambangan.

C.5. Kerusakan jalan
Kerusakan jalan diperkirakan dapat terjadi yangdiakibatkan oleh kendaraan pengangkut. Dampak terhadap kerusakan jalan tersebut kemungkinan akan terjadi pada jalan desa. Untuk lebih jelasnya prakiraan dampak yang terjadi dapat dilihat pada tabel 5.1 berikut.
Identifikasi dampak yang diperkirakan akan terjadi

Sumber : Hasil Survey

    UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN DAN PEMANTAUAN LINGKUNGAN


Upaya Pengelolaan Lingkungan
Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dalam kegiatan pertambangan bertujuan untuk mencegah terjadinya atau menekan sekecil mungkin dampak negatif terhadap lingkungan hidup yang terjadi di lokasi dan sekitar lokasi kegiatan pertambangan. Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga kelestarian kemampuan lingkungan dalam mendukung kehidupan manusia secara berkesinambungan. Disamping itu juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup.
Salah satu upaya teknis dalam pengelolaan lingkungan hidup dalam kegiatan pertambangan yang akan dilakukan adalah melakukan penambangan dan reklamasi secara bertahap sesuai dengan blok blok penambangan yang telah direncanakan sesuai dengan kaidah kaidah yang benar. Pembagian rencana blok blok penambangan dapat dilihat pada peta pembagian blok blok rencana penambangan terlampir. Sedang upaya pengelolaan lingkungan yang akan dilaksanakan secara lengkap dapat dilihat pada uraian tabel di bawah.
Upaya Pengelolaan Lingkungan dilokasi rencana kegiatan penambangan pasir-batu (sirtu) di wilayah Kecamatan Singosari ditekankan pada upaya mencegah terjadinya dampak negatif yang diperkirakan akan terjadi untuk masing masing. Tahap kegiatan pertambangan dan mengembangkan dampak positif yang terjadi akibat kegiatan penambangan. Upaya pengelolaan lingkungan yang direncanakan akan dilakukan adalah sejak perencanaan kegiatan sampai dengan akhir dari kegiatan pertambangan. Adapun kegiatan yang akan dilakukan sebagaimana tercantum pada tabel 5.2 berikut.
Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL)

Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL)
Upaya Pemantauan Lingkungan dimaksudkan sebagai instrumen pihak pemrakarsa untuk mengetahui adanya perubahan lingkungan hidup akibat kegiatan penambangan serta untuk pengawas dalam melakukan pengawasan dan pengendalian, sehingga tidak terjadi dampak negatif dari kegiatan penambangan yang dilakukan oleh pemrakarsa.
Prakiraan dampak lingkungan yang perlu mendapatkan pemantauan pada kegiatan penambangan sirtu di wilayah Kecamatan Singosari adalah dampak yang dapat dikategorikan dalam dampak negatif. Adapun upaya pemantauan yang direncanakan akan dilakukan adalah pemantauan dampak dari setiap tahap kegiatan. Pemantauan dilakukan pada lokasi penambangan dan sekitarnva. Dengan kegiatan pemantauan tersebut apabila benar benar terjadi dampak akan segera diketahui sehingga dapat segera diarnbil tindakan penanggulangannya dan mengupayakan pencegahan terjadinya dampak lebih lanjut.

Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL)

    UPAYA PENATAAN KAWASAN BEKAS KEGIATAN PERTAMBANGAN


Tahapan Analisa Kawasan Pertambangan
Tahapan analisa dalam kegiatan Evaluasi Dampak Lingkungan Pertambangan di Kabupaten Malang (di Kecamaan Singosari) ini dibagi menjadi 2 (dua) langkah analisa, yaitu :
a. Penentuan zona layak industri tambang berdasarkan faktor-faktor internal dan eksternalnya. Faktor-faktor ini antara lain adalah :
 Keterdapatan bahan galian industri
 Lokasi yang berpotensi bagi pengembangan industri berbasis bahan galian
 Penggunaan Lahan
 Keberadaan lahan kritis (hasil analisa spasial dari faktor lereng (morfologis), jenis batuan (geologis), kerapatan vegetasi, jenis dan tebal tanah serta curah hujan).
Dalam analisa spasial, kesemua faktor ini diolah dan disarikan dalam 3 (tiga) bentuk peta, yaitu :
 Peta Sebaran Bahan Galian di Kecamatan Singosari
 Peta Lahan Kritis yang merupakan hasil analisa dari kondisi morfologis, geologis dan iklim.
 Peta Penggunaan Lahan (Landuse)

b. Overlay zona layak industri tambang tersebut dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Lamongan untuk menghasilkan area/wilayah yang sesuai untuk kegiatan pertambangan.

Alur pengolahan data spasial dalam tahapan analisa penataan kawasan pertambangan ini dapat dirumuskan dalam bentuk diagram berikut :

Gambar 5.10. Skema analisa penataan kawasan pertambangan.